🌺 Press Release KAMUS-KU : Fiqih Haid 🌺
Press Release
"Kamus-Ku Online Perdana"
Pemateri : Kak Dwi Fitriyani
Sabtu, 17 April 2021
FIQIH
HAID
v ISLAM MENGAJARKAN KEBERSIHAN
Rasulullah SAW
bersabda,
“Sesungguhnya
Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang
menyukai kebersihan, Dia Maha Mulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah
yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu."
(HR. Tirmizi)
"Bersuci
(thaharah) itu setengah daripada iman."
(HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi)
Kebersihan yang
dimaksud adalah bersih dari kotoran (yang belum tentu najis), tetapi bisa
menjadi sarang kuman atau sumber penyakit. Oleh karena itu, Islam menganjurkan
sunnah fitrah seperti memotong kuku, siwak, membersihkan bulu ketiak dan bulu
kemaluan. Kesucian adalah mensucikan diri, pakaian, dan tempat dari segala
macam najis (baik yang keluar melalui dubur ataupun qubul) dengan cara
istinja’, wudhu, ataupun mandi janabah. Untuk bersuci, maka harus kita kenali
terlebih dahulu macam najisnya dengan warna, bentuk, dan baunya. Dan cara
menyucikannya juga harus sesuai dengan hukum Islam.
v MACAM-MACAM NAJIS PADA WANITA
1. Berupa
Cairan
Ø Air Seni: cairan yang dikeluarkan tubuh manusia melalui saluran
saluran urin
Ø Wadhi: cairan keputihan
Ø Madzi: cairan putih yang keluar dari farj saat terangsang
syahwat.
(Wadhi dan Madzi adalah najis ringan yang
dapat disucikan dengan istinja dan berwudhu)
Ø Mani: cairan putih yang keluar dari farj saat berhubungan
badan atau ketika melihat cairan yang keluar dari vagina setelah bangun dari
tidur baik teringat mimpinya ataupun tidak.
Perbedaan Keputihan yang Sehat atau Tidak
1. Warnanya putih / bening
2. Keluar tanpa diiringi rasa gatal
3. Tidak berbau yang tidak sedap
4. Tidak mengalir terus-menerus
Menurut Imam Hanafi dan Maliki, ini merupakan najis dan cara mensucukannya adalah mencuci/mengganti pakaiannya jika mani tersebut basah dan mengeriknya jika mani itu mengering. Sedangkan menurut Imam Syafi’i dan Hambali, air mani itu suci namun cara mensucikannya adalah dengan mandi wajib.
2. Berupa
Darah
Ø Darah Haidh (Menstruasi): darah yang keluar dari rahim wanita
yang sudah baligh (mukallaf).
Ciri-cirinya : berwarna merah,
hitam, coklat, kuning, atau keruh (warna kuning dan keruh tetap dianggap haidh
setelah diawal warna selainnya).
Masa Haid : Minimal 1 hari dan untuk maksimal
terdapat 2 pendapat (Pertama sesuai kebiasaannya atau kedua yaitu 15 hari)
Penting : Yang harus diperhatikan sebelum
menentukan waktu bersih adalah sampai SEPUTIH KAPAS.
Siklus Bersih : Minimal 15 hari
Seputih Kapas
Fatimah binti Muhammad, saat itu tengah berada dalam pemeliharaan ‘Amrah, ia berkata,
“Seorang wanita dari suku Quraisy pernah mengirim sehelai kain katun yang ada
bercak kekuning-kuningan”.
‘Amrah bertanya
kepadanya, “Apa pendapatmu jika yang terlihat ketika haid hanya darah berwarna
seperti ini, apakah sudah dianggap suci?”
Fatimah
menjawab, “Tidak, hingga kamu melihat benar-benar putih bersih.”
(HR. Darimi)
Ø Darah Haidh (Menstruasi) : darah yang keluar setelah melahirkan ataupun keguguran.
Ciri-cirinya : berwarna seperti darah haidh.
Masa Haid : minimal 1 hari dan maksimal 40 atau 60 hari.
Ø Darah Istihadhoh (Penyakit): darah yang keluar selain pada masa haidh ataupun ba’da melahirkan
Perbedaan Darah Sehat atau Tidak
1. Tentukan kebiasaan awal hari/tanggal tiap bulannya
2. Tentukan kebiasaan maksimal haidh, dengan catatan sampai seputih kapas
3. Kenali warna darah najis
4. Ingat waktu maksimal darah keluar (haidh 15 hari, nifas 40/60 hari)
v MANDI JANABAH
Hal-Hal yang Mewajibkan Mandi Janabah
Keluar mani baik dalam keadaan tidur atau setelah berhubungan badan, setelah bersentuhan kulit kelamin, setelah suci dari haidh dan nifas, muslim setelah wafat, seorang kafir jika masuk Islam
Syarat
dan Rukun Mandi Janabah
1) Niat
mandi wajib karena Allah SWT
2) Air
yang digunakan adalah air yang suci
3) Meratakan
air ke seluruh tubuh dan melepaskan semua yang menghalangi air. Adapun untuk
ikatan rambut terjadi ikfltilaf :
a. Jumhur
: dilepas karena setiap helai rambut ada janabah untuk disucikan
b. Hanafi : tidak dilepas tidak mengapa untuk mandi janabah dan wajib untuk mandi karena haidh dan nifas
Tata Cara Mandi Janabah
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulai dengan mencuci kedua telapak tangannya, kemudian menuangkan air pada kedua telapak tangan. Lalu beliau mencuci kemaluannya. Selanjutnya, beliau berwudhu. Lantas beliau mengambil air, lalu menyela-nyelai pangkal rambut dengan jari-jarinya. Kemudian beliau menyiramkan air di kepala dengan mencedok tiga kali (dengan kedua telapak tangan penuh). Lalu beliau menuangkan air pada anggota badan yang lain. Kemudian, beliau mencuci kedua telapak kakinya. (Muttafaqun ‘alaih. Lafazhnya dari Muslim)
[HR. Bukhari, no. 248 dan Muslim, no. 316]
Amalan-Amalan
yang Diperbolehkan
1) Menuntut
Ilmu
“Belajarlah ilmu, sesungguhnya belajar ilmu kerana Allah
adalah suatu bentuk ketakwaan. Mencari ilmu adalah ibadah, menelaahnya adalah
tasbih, dan mengkajinya adalah jihad.” (HR Ad-Dailami)
2) Berdzikir
3) Berdoa
Sayyidah Aisyah ra. pernah bertanya kepada Rasulullah SAW,
“Wahai Rasul, andaikan aku bertemu Lailatul Qadar, do’a apa yang bagus dibaca?” Rasul menjawab:
“Allâhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annî,’
(Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai orang yang minta ampunan. Karenanya ampunilah aku).”
(HR Ibnu Majah)
4) Melakukan
kegiatan sosial
5) Bagaimana dengan membaca Al-Qur’an??
Dalam madzhab Syafi’I, ulama sepakat bahwa perempuan haidh/nifas tidak diperkenankan menyentuh atau membawa mushaf. Namun, sebagian lain memperbolehkan membaca Al-Qur’an (tanpa menyentuhnya dengan niat dzikir, do’a, dan mempelajarinya)
6) Hadir dalam sholat Ied
Dan telah menceritakan kepada kami Amru An Naqid telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Hafshah binti Sirin dari Ummu Athiyyah ia berkata; Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami agar mengajak serta keluar melakukan shalat idul Fitri dan idul Adha para gadis, wanita haidh dan wanita yang sedang dipingit. Adapun mereka yang sedang haidh tidak ikut shalat, namun turut menyaksikan kebaikan dan menyambut seruan kaum muslimin. Saya bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak memiliki baju." Beliau menjawab: "Hendaknya saudaranya yang memiliki jilbab memakaikannya.“ (HR. Muslim: 1475)
v TANYA JAWAB
1. Jika sekarang perempuan haid tidak boleh memegang Quran (mushaf Al Quran) dan bisa digantikan dengan quran elektronik, lalu bagaimana jika di zaman dahulu yang belum ada elekronik (tidak secanggih sekarang) jika ingin berinteraksi dengn Quran, itu dengan cara apa?
Komentar
Posting Komentar